Heritage

Sejarah Singkat Masjid Agung Al Jami’ Pekalongan

 

Berdirinya Masjid Agung Al Jami’ Pekalongan tidak lepas dari Masjid Aulia di Sapuro yang merupakan masjid tertua di pekalongan. Seiring berkembangnya pemeluk agama islam di pekalongan, Masjid Aulia Sapuro tidak mampu lagi menampung jamaah yang ada terutama saat untuk sholat jum’at. Karena letaknya yang kurang strategis dan dekat dengan sungai, maka dibangunlah masjid baru yang mampu menampung lebih banyak jamaah di kauman.

 

Maka pada hari Selasa Kliwon, 9 Robi’ul Awwal 1270 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 26 Desember 1852 Miladiyah atau tahun 1782 penanggalan jawa, oleh Bupati Pekalongan Raden Aryowiryo Tumenggung Adinegoro, didirikanlah sebuah masjid yang diberi nama Masjid Besar yaitu cikal bakal Masjid Agung Al Jami’ Pekalongan.

Dengan didukung sistem tata pemerintahan waktu itu yang mempunyai tata ruang terdiri dari Pusat Pemerintahan (Pendopo Kabupaten) beserta perkantoran dan alun-alun sebagai halamannya untuk upacara. Ada penjara di sebelah timur alun-alun dan masjid jami dibangun di sebelah baratnya.

Bangunan awal Masjid Agung Al Jami’ Pekalongan berukuran 35 meter x 35 meter yang saat ini menjadi inti banguanan yang dibatasi 9 buah pintu besar dan 12 jendela besar terbuat dari kayu jati dan di dalamnya terdapat 1 mihrab untuk Imam dan 1 kubah untuk khatib.

 

Penyempurnaan bangunan masjid pertama dilakukan tanggal 2 Robi’ul Awwal 1302 Hijriyah bertepatan 3 Juni 1907 Miladiyah oleh Bupati Kanjeng Kyai Adipati Aryonotodirjo dengan membangun sebuah kubah yang terletak di sebelah selatan mihrab pengimaman serta ornament lengkungan pada tembok mihrab pengimaman. Kubah baru yang dibangun diperuntukkan sebagai tempat sholat Bupati saat Sholat Jum’at dan Sholat Ied (Hari Raya).

 

Penyempurnaan tahap kedua dimulai 1 Jumadil Akhir 1346 H atau tahun 1858 tahun jawa betepatan 1 Juni 1927 M yaitu memperluas bangunan masjid dengan membangun serambi atau pendopo depan serta samping utara dan selatan.

 

Pada penyempuranaan tahap ketiga, dibangunlah menara masjid setinggi +/- 27 meter dengan 99 anak tangga yang dibiayai sendiri oleh Sayyid Husein bin Ahmad bin Shahab. Belum diketahui kapan menara mulai dibangun. Namun tercatat pada prasasti yang menempel di bagian dalam menara, menara selesai dibangun pada bulan Romadhon 1351 H bertepatan bulan Januari 1933 M yang kemudian digunakan untuk mengumandangkan adzan.

 

Tulisan disadur dari catatan KH Machmud Masjkur dan sumber lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *